Bijak dalam Berbahasa

Bijak dalam Berbahasa

Biografi


Biografi

Pernahkah kalian membaca biografi seorang tokoh terkenal? Tentunya dalam biografi tersebut tertuliskan perjalanan hidup seorang tokoh dari awal hingga menjadi orang sukses. Banyak hal yang bisa kalian pelajari

melalui perjalanan hidup tokoh. Tentunya, kalian sudah memahami pengertian biografi, bukan?
Biografi adalah buku yang berisi riwayat hidup seseorang. Buku biografi memberikan banyak manfaat bagi pembacanya. Kita bisa menemukan hal-hal yang menarik tentang seseorang yang mungkin bisa kita jadikan teladan. Biografi yang ditulis sendiri oleh pengarangnya dan menceritakan perjalanan hidup dirinya sendiri disebut autobiografi.

Biografi adalah suatu buku yang menguraikan dan membahas tentang riwayat hidup seorang tokoh. Biografi biasanya ditulis oleh orang lain. Anda dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dari tokoh, diantaranya dengan:

  1. membaca dengan sungguh-sungguh buku yang kita baca,
  2. mencari hal-hal positif dan negatif (bila ada) dari tokoh tersebut,
  3. memfokuskan membaca pada pengalaman-pengalaman menariknya misalnya, sang tokoh sekarang jadi presiden padahal dahulu pernah menjadi tukang sayur, tetapi karena kepandaiannya dia dapat sekolah dan menjadi orang penting sampai sekarang ini.
Penulisan biografi biasanya membahas perjalanan hidup orang terkenal atau seorang tokoh yang pantas diteladani. Biografi pada hakikatnya berisi tentang riwayat hidup seseorang dari mulai dia lahir sampai meninggal dunia. Fungsi dan manfaat dari buku biografi yaitu bahwa Anda dapat lebih mengenal tokoh beserta latar belakangnya, sehingga dapat menambah wawasan Anda tentang tokoh.
 
Disamping itu, Anda dapat mengambil hal-hal menarik dari tokoh tersebut misalnya keteladanan, ketertiban, kedisiplinan, dan lain sebagainya. Untuk dapat mengungkapkan hal-hal yang menarik dari tokoh, ada baiknya bila Anda mengetahui hal-hal berikut ini:
  1. mengetahui nama lengkap tokoh,
  2. mencari tanggal lahir, umur, alamat,
  3. pendidikan, misal TK sampai Perguruan Tinggi,
  4. pengalaman kerja, misal menjadi guru, tukang sayur, pegawai negeri,
  5.  menuliskan tanggal wafatnya …(jika sudah meninggal),
  6. keterangan yang lain.
 Biografi dapat berupa biografi lengkap (buku) atau biografi singkat (biasanya terletak di bagian akhir buku). Anda dapat mengambil manfaat dari buku biografi tersebut. Misalnya, tentang keteladanan, ketertiban, dan sikapsikap positif dari tokoh tersebut.
 
Contoh biografi tokoh: buku yang berjudul Soeharto Bapak Pembangunan Indonesia merupakan contoh biografi yang ditulis oleh Tjahjadi Nugroho yang diterbitkan pada tahun 1985 oleh Penerbit Yayasan Telapak, Semarang. Buku biografi tersebut memuat lima bagian pokok, yaitu:
  1. TAP MPR tentang pertanggungjawaban Presiden RI, Soeharto, selaku Mandataris MPR serta pengukuhan pemberian penghargaan sebagai Bapak Pembangunan Indonesia
  2. mengenal Pak Harto,
  3. pak Harto membangun Indonesia,
  4. album Pembangunan Indonesia,
  5. masyarakat menanggapi hasil pembangunan.
 Perhatikan contoh biografi tokoh berikut ini.

Pangeran Diponegoro

Melihat tindakan Belanda yang memecah belah kerajaan Mataram, Pangeran Diponegoro dengan terang-terangan menentangnya. Terlebih ketika Belanda berniat membuat jalan raya melalui makam leluhurnya di desa Tegalrejo. Hal ini membuat kemarahannya semakin memuncak.
 
Pada tanggal 20 Juli 1825, mulailah Pangeran Diponegoro dan pengikutnya mengangkat senjata melawan Belanda. Para tokoh masyarakatnya pun ikut bergabung yaitu: Kyai Maja, Kyai Hassan Besari, Alibasyah Sentot Prawirodirjo, Pangeran Mangkubumi, dan sebagainya.

Menyadari pasukannya kalah, Pangeran Diponegoro kemudian menggunakan siasat gerilya. Hal ini sangat menyulitkan Belanda sehingga Jenderal de Kock menggunakan siasat perang yang disebut “Benteng Stelsel”. Cara ini ternyata belum juga berhasil untuk menangkap Diponegoro. Akhirnya Belanda mengajak Diponegoro untuk berunding. Pada tahun 1830 disepakati perjanjian di Magelang. Pada bulan Februari 1830, Diponegoro dengan pengikutnya datang memenuhi undangan. Di lain pihak Belanda mengatur siasat jika perundingan gagal maka Diponegoro harus ditangkap. Ternyata perundingan tidak mencapai kesepakatan.
 
Ketika Diponegoro hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba disergap oleh serdadu Belanda lalu ditangkap. Diponegoro dibuang ke Manado dan tahun 1834 dipindahkan ke Makasar (Ujung Pandang) hingga wafatnya pada tahun 1855.
Sumber: Muchtar, 1997

Terima kasih telah berkunjung ke blog Bahasa Indonesia Ayo Baca ini. Silakan berkemontar di bawah ini dengan bahasa yang sopan jika anda suka tolong klik tombol suka atau share (berbagi). Marilah saling membangun para blogger.

1 comments:

Saya

Saya